Beberapa minggu pertama bersama bayi baru lahir sering terasa seperti satu rangkaian aktivitas tanpa henti: menyusui, sendawakan, ganti popok, lalu berusaha tidur sebentar. Di tengah-tengah semua itu, bidan atau dokter anak akan bertanya: «Seberapa sering bayi menyusu?»
Lalu di kepala Anda muncul: Iya juga. Ini dihitungnya dari mana, ya?
Di sinilah satu konsep sederhana sangat membantu: interval menyusui dihitung dari awal satu sesi menyusui sampai awal sesi berikutnya. Begitu ini klik di kepala, sisanya akan jauh lebih mudah.
Mari kita bahas dengan cara yang praktis dan to the point.
Ketika tenaga kesehatan bicara soal jadwal menyusui atau frekuensi menyusui, yang biasanya dimaksud adalah jarak waktu dari awal setiap sesi menyusui.
Jadi kalau Anda bingung bagaimana menghitung waktu antar menyusui, pegang satu aturan ini:
Hitung dari awal satu sesi menyusui sampai awal sesi berikutnya.
Bukan dari akhir. Bukan dari saat ganti sisi. Dari awal menyusu.
Misalnya bayi Anda:
Interval menyusui adalah 2,5 jam.
Yang dihitung adalah 10.00 → 12.30, bukan 10.40 → 12.30.
Jadi meskipun waktu menyusui pertama tadi 40 menit, jawaban untuk pertanyaan «berapa lama jeda menyusui?» di contoh ini adalah 2,5 jam.
Di Indonesia, bidan, dokter anak, dan konselor laktasi juga memakai cara awal ke awal ini ketika membicarakan jadwal menyusui bayi baru lahir.
Bagian ini sering membingungkan, apalagi kalau bayi tertidur saat menyusui, lalu bangun lagi, mencari-cari payudara, dan Anda merasa seperti menyusui non-stop seharian.
Cara melihatnya yang lebih gampang:
Biasanya masih satu sesi menyusui jika:
Semua itu umumnya masih dihitung sebagai satu sesi menyusui. Hanya saja sesi tersebut agak panjang dan putus-putus.
Biasanya dianggap sesi baru jika:
Kalau begitu, biasanya itu dihitung sebagai sesi menyusui baru, dan Anda mulai mencatat interval berikutnya dari waktu mulai yang baru itu.
Angka ini bukan aturan medis yang kaku, tetapi cukup sesuai dengan cara banyak bidan dan konselor laktasi di puskesmas atau klinik laktasi menjelaskan apa itu satu sesi menyusui.
Kalau bingung, pikirkan dalam bentuk satu blok waktu: satu blok menyusui yang cukup berkesinambungan, dengan jeda-jeda pendek, biasanya dihitung sebagai satu sesi menyusui.
Mencatat jadwal menyusui ketika Anda kurang tidur memang terasa merepotkan, tetapi cara menghitung interval menyusui yang tepat membantu Anda dan tenaga kesehatan memahami:
Bidan atau dokter anak sering bertanya:
Kalau Anda menghitung dari akhir menyusui, bukan dari awal, interval menyusui akan terkesan lebih panjang dari yang sebenarnya. Dampaknya:
Dengan menghitung dari awal ke awal, jawaban Anda akan sesuai dengan maksud tenaga kesehatan ketika mereka membahas jam menyusui bayi baru lahir.
Di minggu-minggu pertama, bayi baru lahir biasanya menyusu minimal 8–12 kali dalam 24 jam. Angka ini juga tercantum di berbagai materi edukasi laktasi dari Kementerian Kesehatan dan IDAI, yang kalau dipecah kurang lebih menjadi:
Jadi kalau Anda bertanya-tanya berapa lama jeda menyusui yang tergolong umum, bayangkan polanya seperti ini:
Yang dinilai bukan hanya jarak waktu, tetapi juga:
Dengan menghitung interval menyusui secara benar, gambaran jadwal menyusui Anda akan jauh lebih jelas dibanding hanya menjawab «suka-suka» atau «kayaknya terus-terusan».
Begitu Anda mulai merasa paham jadwal menyusui, tiba-tiba bayi masuk ke fase cluster feeding.
Cluster feeding adalah saat bayi:
Hal ini bisa muncul saat growth spurt atau memang bagian dari pola menyusui bayi baru lahir yang normal. Ini bukan tanda ASI Anda kurang bagus. Biasanya ini cara bayi untuk:
Supaya tidak stres, anggap fase ini sebagai satu blok cluster feeding panjang, bukan bukti bahwa jadwal menyusui Anda berantakan.
Secara teknis, ya, setiap kali bayi mulai menyusu adalah sesi baru, dan cara hitung awal ke awal tetap berlaku. Jadi kalau bayi menyusu pukul 18.00, 18.45, 19.30, dan 20.15, itu semua adalah sesi terpisah dengan interval menyusui yang pendek.
Tetapi saat bidan atau teman bertanya «Seberapa sering bayi menyusu?», Anda bisa menjawab seperti:
Dengan begitu, cara menghitung waktu antar menyusui tetap benar, sekaligus mengakui bahwa cluster feeding adalah pola normal, bukan masalah otomatis.
Kalau bayi seharian penuh seperti cluster feeding, dari pagi sampai malam terus menerus, dan Anda khawatir soal berat badan, rasa sakit saat menyusui, atau produksi ASI, itu saat yang tepat untuk konsultasi ke bidan, dokter anak, atau konselor laktasi tersertifikasi (IBCLC) di klinik laktasi terdekat.
Mengandalkan ingatan saja, apalagi ketika kurang tidur, sering kali terlalu berat. Kebanyakan orang tua akhirnya memakai:
Aplikasi seperti Erby dibuat khusus untuk membantu mencatat jadwal menyusui dan pola tidur bayi baru lahir. Tujuannya membuat kenyataan hari-hari yang berantakan jadi data yang bisa dipahami ketika otak sedang lelah.
Begini kira-kira cara aplikasi bisa membantu menghitung jeda menyusui:
Cukup tap saat mulai dan selesai
Saat bayi mulai menyusu, Anda ketuk tombol «Start» atau «Mulai». Ketika sesi menyusui selesai, Anda ketuk «Stop» atau «Selesai».
Aplikasi akan mencatat:
Interval menyusui otomatis terhitung
Karena aplikasi tahu semua waktu mulai, ia bisa otomatis menghitung:
Tidak perlu lagi hitung-hitung di kepala jam 3 pagi.
Melihat pola harian dan mingguan
Seiring waktu, Anda bisa mulai melihat:
Ini cukup menenangkan. «Oh, ternyata tiap malam dia memang menyusu rapat, lalu setelah tengah malam agak lebih panjang jedanya. Memang polanya begitu.»
Mempermudah saat konsultasi kesehatan
Ketika di posyandu atau klinik dokter anak Anda ditanya tentang frekuensi menyusui dan jam menyusui bayi baru lahir, Anda bisa langsung membuka aplikasi dan menunjukkan:
Ingatan yang samar berubah jadi data yang jelas, sehingga saran yang diberikan bisa lebih tepat dan sesuai kondisi Anda.
Supaya mudah diingat:
Anda tidak perlu mencatat selamanya. Bahkan 1–2 minggu data yang rapi sudah cukup untuk membantu Anda memahami pola menyusui bayi baru lahir dan membuat Anda lebih percaya diri saat mendapat pertanyaan klasik:
«Jadi, sekarang bayi menyusu tiap berapa jam?»