Masa-masa awal bersama bayi sering digambarkan sebagai waktu yang penuh kebahagiaan. Namun bagi banyak ibu, periode ini juga bisa terasa menakutkan, sepi, dan jauh lebih berat daripada yang dibayangkan. Jika Anda merasa hampa, panik, mudah marah, tidak terhubung dengan bayi, atau hanya berusaha bertahan dari satu hari ke hari berikutnya, itu bukan berarti Anda gagal menjadi ibu.
Anda mungkin sedang mengalami depresi pasca melahirkan atau depresi postpartum, dan bantuan selalu tersedia.
Depresi setelah melahirkan adalah kondisi kesehatan mental, bukan ukuran seberapa besar cinta Anda kepada bayi atau seberapa baik kemampuan Anda sebagai orang tua. Mencari pertolongan bukan tanda kelemahan. Justru itu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan keluarga.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10% hingga 20% ibu mengalami depresi setelah melahirkan. Angka prevalensi depresi pasca melahirkan di Indonesia dapat berbeda antarwilayah dan fasilitas kesehatan, tetapi jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena banyak ibu memilih diam.
Ada yang merasa malu, takut dicap sebagai ibu yang tidak bersyukur, atau menganggap dirinya hanya perlu lebih kuat. Padahal, tidak semua orang bisa mengenali depresi postpartum pada dirinya sendiri.
Depresi pasca melahirkan dapat muncul saat hamil, beberapa hari setelah persalinan, atau bahkan beberapa bulan kemudian. Kondisinya juga tidak selalu terlihat seperti menangis sepanjang hari. Sebagian ibu justru merasa cemas terus-menerus, mati rasa, mudah tersulut emosi, sangat lelah, atau merasa dirinya berubah menjadi orang asing.
Anda mungkin tetap menyusui, membawa bayi imunisasi ke puskesmas, tersenyum saat ada tamu, bahkan mengunggah foto keluarga yang tampak bahagia. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Namun di dalam hati, Anda mungkin sedang berjuang untuk melewati satu jam berikutnya.
Depresi postpartum dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia, kondisi ekonomi, status pernikahan, latar budaya, maupun apakah kehamilan tersebut direncanakan atau tidak. Pasangan dan orang tua adopsi juga dapat mengalaminya, meski pembahasan ini berfokus pada depresi pada ibu setelah melahirkan.
Banyak ibu baru mengalami baby blues. Setelah persalinan, hormon berubah cepat, waktu tidur berkurang, tubuh masih dalam masa pemulihan, dan kehidupan sehari-hari berubah drastis. Wajar jika semuanya terasa menumpuk.
Baby blues biasanya muncul beberapa hari setelah melahirkan. Keluhannya dapat berupa mudah menangis, sensitif, suasana hati berubah-ubah, cepat kesal, merasa kewalahan, atau cemas. Umumnya, kondisi ini membaik dengan sendirinya dalam waktu dua minggu.
Perbedaan baby blues dan depresi pasca melahirkan bukan semata-mata soal seberapa sering Anda menangis. Yang perlu diperhatikan adalah durasi, tingkat keparahan, serta apakah keluhan perlahan membaik atau justru makin berat.
Jika Anda mulai bertanya dalam hati apakah kondisi ini sudah cukup serius untuk ditangani, itu sendiri sudah menjadi alasan untuk berbicara dengan seseorang. Anda tidak perlu menunggu sampai berada dalam keadaan darurat.
Gejala depresi pasca melahirkan tidak selalu sama pada setiap ibu. Ada yang merasa sangat sedih, sementara yang lain lebih banyak mengalami kecemasan, kemarahan, gelisah, atau mati rasa secara emosional.
Anda mungkin hanya mengalami satu gejala atau beberapa sekaligus. Berikut daftar gejala depresi pasca melahirkan yang dapat membantu Anda memahami apa yang sedang dirasakan:
Tidak semua pikiran mengganggu berarti Anda ingin menyakiti anak. Kecemasan setelah melahirkan dapat memunculkan bayangan atau ketakutan yang sangat menakutkan justru karena Anda sangat ingin menjaga bayi tetap aman. Meski begitu, pikiran untuk melukai diri sendiri atau bayi tetap memerlukan bantuan profesional secepatnya. Ceritakan kepada seseorang hari ini.
Jika Anda merasa mungkin akan melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, segera hubungi 119 untuk layanan kegawatdaruratan medis, 112 di daerah yang menyediakan layanan tersebut, atau langsung ke IGD rumah sakit terdekat. Jangan menghadapi pikiran itu sendirian.
Untuk dukungan kesehatan jiwa, Anda juga dapat mengakses layanan yang terhubung dengan Kementerian Kesehatan melalui Healing119.id atau menghubungi 119 ekstensi 8 jika layanan tersedia di wilayah Anda. Bila ragu, mintalah pasangan, keluarga, tetangga, atau teman untuk menemani Anda ke fasilitas kesehatan.
Ada pula kondisi yang jarang tetapi sangat serius, yaitu psikosis pascapersalinan. Gejalanya dapat berupa kebingungan berat, gelisah ekstrem, mendengar atau melihat sesuatu yang tidak dialami orang lain, kecurigaan berlebihan, atau keyakinan yang tidak sesuai kenyataan. Ini adalah keadaan darurat medis. Segera bawa ibu ke IGD atau hubungi layanan darurat.
Tidak ada satu jawaban tunggal untuk penyebab depresi postpartum. Biasanya, kondisi ini terjadi karena gabungan perubahan biologis, tekanan emosional, pengalaman masa lalu, dan tuntutan nyata dalam merawat bayi baru lahir.
Persalinan yang sulit tidak otomatis menyebabkan depresi. Sebaliknya, memiliki bayi yang sehat juga tidak menjamin seorang ibu terbebas dari depresi setelah melahirkan. Namun, beberapa keadaan memang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi ini.
Kurang tidur dapat memperparah semua gejala. Kesepian juga bisa membuat keadaan terasa lebih berat. Ibu yang berhari-hari tidak sempat berbicara dengan orang dewasa lain bisa mulai merasa bahwa hanya dirinya yang kewalahan. Padahal, ia tidak sendirian.
Hambatan terbesar sering kali adalah stigma. Ibu baru kerap mendapat pesan bahwa mereka seharusnya merasa bahagia, bersyukur, menikmati setiap momen, dan langsung dekat dengan bayinya. Ketika kenyataan tidak seperti itu, rasa malu mudah muncul.
Mungkin Anda berpikir, “Seharusnya aku bahagia.” Atau, “Ibu lain bisa menjalani ini, kenapa aku tidak?”
Pikiran seperti itu adalah tanda bahwa Anda sedang tertekan, bukan bukti bahwa Anda tidak cukup baik.
Ketakutan akan penilaian orang lain juga sangat kuat. Sebagian ibu khawatir bidan, dokter, psikolog, atau petugas kesehatan akan menganggap mereka tidak layak mengasuh anak. Ada pula yang takut bayinya akan diambil.
Mencari bantuan untuk depresi pasca melahirkan bukan berarti bayi Anda akan dipisahkan dari Anda. Tenaga kesehatan bertugas membantu keluarga dan menjaga keselamatan ibu serta bayi. Bersikap jujur tentang depresi, kecemasan, pikiran mengganggu, atau kelelahan justru menjadi langkah awal untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Meminta pertolongan menunjukkan bahwa Anda peduli dan ingin melindungi anak.
Kadang depresi pasca melahirkan tidak terdeteksi karena tidak tampak seperti kesedihan. Seorang ibu mungkin hanya berkata bahwa ia “cuma capek”, sering mengeluh sakit kepala, terlalu mengontrol jadwal bayi, atau selalu merasa tegang. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kecemasan pascapersalinan, depresi, atau keduanya.
Anda tidak perlu menjelaskan semuanya dengan sempurna. Satu kalimat saja dapat menjadi awal, misalnya: “Saya merasa tidak sanggup menjalani masa setelah melahirkan.” Atau: “Saya khawatir mengalami depresi postpartum.”
Di Indonesia, puskesmas, bidan, dokter umum, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, serta rumah sakit dapat menjadi tempat pertama untuk mencari pertolongan. Tenaga kesehatan dapat menilai keluhan Anda, membicarakan pilihan penanganan, memeriksa kondisi fisik seperti anemia atau gangguan tiroid, dan merujuk Anda ke psikolog atau psikiater bila diperlukan.
Jika memungkinkan, ceritakan dengan spesifik. Sebutkan sudah berapa lama gejala dirasakan, bagaimana dampaknya terhadap tidur dan aktivitas sehari-hari, serta apakah Anda mengalami pikiran yang menakutkan. Anda boleh mengajak pasangan, keluarga, atau teman saat konsultasi. Membawa catatan juga dapat membantu jika Anda kesulitan berbicara.
Edinburgh Postnatal Depression Scale atau EPDS adalah kuesioner singkat yang digunakan untuk mengenali kemungkinan depresi dan kecemasan setelah melahirkan. Anda mungkin ditawari pemeriksaan ini oleh dokter, bidan, atau tenaga kesehatan di puskesmas.
EPDS bukan alat untuk menegakkan diagnosis. Nilai dari kuesioner tidak bisa menceritakan seluruh pengalaman Anda. Namun, hasilnya dapat menjadi petunjuk untuk mencari bantuan profesional, terutama bila selama ini Anda cenderung meremehkan apa yang dirasakan.
Psikolog, konselor, psikiater, atau terapis yang memahami kesehatan mental perinatal dapat membantu pemulihan secara nyata. Anda dapat meminta rujukan dari puskesmas, klinik, dokter kandungan, atau rumah sakit.
Bila menggunakan BPJS Kesehatan, tanyakan alur rujukan untuk layanan psikologi atau psikiatri di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Jika memilih layanan mandiri, pastikan tenaga profesional memiliki izin praktik yang jelas.
Kelompok pendampingan ibu baru, komunitas menyusui, kelas parenting yang suportif, maupun forum dukungan daring dapat menjadi pelengkap yang menenangkan. Mendengar ibu lain berkata, “Aku juga pernah merasakan itu,” sering kali dapat mengurangi rasa sepi dengan cepat.
Tidak ada penghargaan untuk menanggung semua ini sendirian. Penanganan depresi postpartum dapat bekerja dengan baik, dan banyak ibu merasa jauh lebih baik setelah mendapatkan kombinasi perawatan yang sesuai.
Terapi bicara sering menjadi pilihan awal. Terapi perilaku kognitif atau CBT memiliki bukti yang baik untuk membantu depresi dan kecemasan pascapersalinan. Terapi ini membantu Anda mengenali pola pikir yang terlalu keras terhadap diri sendiri, menantang keyakinan yang tidak membantu, dan membangun cara menghadapi hari-hari sulit.
Terapi interpersonal juga dapat bermanfaat, terutama bila suasana hati dipengaruhi oleh perubahan hubungan, duka, konflik keluarga, atau kurangnya dukungan.
Terapi tidak harus hanya membahas bayi. Anda adalah pribadi yang utuh. Identitas, tubuh, hubungan, pengalaman masa lalu, rasa marah, ketakutan, dan harapan Anda semuanya layak dibicarakan.
Antidepresan dapat menjadi bagian penting dari pengobatan untuk depresi pasca melahirkan tingkat sedang hingga berat. Golongan obat yang sering digunakan adalah selective serotonin reuptake inhibitors atau SSRI. Beberapa jenis obat dapat dipertimbangkan untuk ibu menyusui, dengan pengawasan dokter.
Dokter umum atau psikiater dapat menjelaskan manfaat, kemungkinan efek samping, riwayat kesehatan mental Anda, serta pertimbangan menyusui. Jangan memulai, menghentikan, atau mengubah dosis obat secara mendadak tanpa arahan medis. Depresi yang tidak tertangani juga memiliki dampak, dan kesehatan Anda tetap penting.
Kelompok dukungan bukan pengganti pertolongan medis darurat, tetapi dapat menjadi lapisan dukungan yang kuat. Ada kelompok yang memperbolehkan ibu membawa bayi, sehingga Anda tidak perlu repot mencari pengasuh. Pertemuan daring juga bisa membantu ibu yang sulit keluar rumah, sering menyusui, atau terlalu lelah untuk bepergian.
Bantuan praktis juga termasuk dukungan untuk pemulihan. Tetangga yang mengantarkan makanan, saudara yang membantu mencuci pakaian, atau teman yang menggendong bayi selama Anda mandi mungkin terdengar sederhana. Saat tenaga Anda benar-benar habis, bantuan kecil seperti itu sangat berarti.
Olahraga, tidur, makanan bergizi, dan interaksi sosial tidak bisa menyembuhkan depresi sendirian. Jangan biarkan siapa pun mengatakan bahwa Anda hanya perlu berjalan-jalan sebentar agar semuanya selesai. Namun, kebiasaan ini dapat mendukung proses pemulihan bersama terapi dan obat bila diperlukan.
Mulailah dari versi yang paling ringan:
Langkah kecil tetaplah langkah.
Pasangan, keluarga, dan teman sering ingin membantu, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Mulailah dengan mendengarkan tanpa buru-buru memberi solusi atau mengecilkan perasaannya.
Tanyakan secara langsung: “Kamu benar-benar baik-baik saja?” Lalu tunggu jawabannya. Jangan langsung mengisi keheningan.
Jika Anda mencari cara membantu seseorang dengan depresi pasca melahirkan, berikan dukungan yang nyata dan konsisten:
Jangan mengabaikan kemarahan, menarik diri, serangan panik, atau mati rasa hanya karena ia tidak tampak menangis. Depresi tidak selalu terlihat tenang dan pendiam.
Menjadi ibu tidak berarti Anda harus menghilang sebagai pribadi. Anda boleh membutuhkan bantuan. Anda boleh mengatakan bahwa tidak semua momen terasa indah. Anda boleh memiliki perasaan yang rumit tentang persalinan, menyusui, tubuh, hubungan, dan kehidupan baru Anda.
Depresi pasca melahirkan dapat membuat masa depan terlihat suram selamanya. Namun itu tidak benar. Dengan bantuan untuk depresi pasca melahirkan, penanganan yang tepat, waktu, serta dukungan untuk ibu baru, pemulihan sangat mungkin terjadi.
Anda tidak perlu membuktikan bahwa kondisi Anda semakin buruk agar pantas ditolong. Ceritakan kepada satu orang hari ini: dokter, bidan, pasangan, teman, atau sesama ibu yang Anda rasa dapat memahami.
Mencari bantuan membuat Anda menjadi ibu yang lebih kuat, bukan ibu yang lemah.