Rasa Bersalah pada Anak setelah Kelahiran Adik: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Mengatasi Rasa Bersalah pada Anak setelah Kelahiran Adik

Bayi baru bisa datang bersama perasaan yang tidak disangka-sangka: rasa bersalah. Anda mungkin sangat menyayangi bayi, tetapi tetap sedih karena merasa anak yang lebih besar kehilangan sosok ibu seperti dulu. Perasaan itu bisa muncul saat si sulung menunggu Anda selesai menyusui, ketika Anda melewatkan acara sekolahnya, atau saat sadar sudah enam kali berkata, “Sebentar, ya,” sebelum makan siang.

Inilah yang sering disebut rasa bersalah terhadap anak setelah lahirnya adik. Banyak ibu mengalaminya, tetapi tidak semuanya berani membicarakannya.

Perasaan tersebut bukan tanda bahwa Anda lebih sedikit menyayangi anak pertama. Keluarga Anda sedang berubah, perhatian harus terbagi, dan hati Anda membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru.

Mengapa rasa bersalah muncul setelah bayi lahir

Perhatian Anda tidak lagi sepenuhnya untuk satu anak

Sebelum bayi lahir, anak sulung mungkin mendapatkan hampir seluruh perhatian Anda. Anda hafal jadwalnya, leluconnya, makanan kesukaannya, sampai kebiasaan kecil yang hanya dipahami oleh Anda berdua. Setelah bayi hadir, ada seseorang yang perlu digendong, disusui, diganti popoknya, dan ditenangkan hampir sepanjang hari.

Perubahan ini bisa terasa berat. Anda mungkin berada di dekat anak sulung, tetapi pikiran sibuk menghitung jadwal menyusui atau mendengarkan apakah bayi mulai menangis. Membagi perhatian antara anak dan bayi menjadi salah satu tantangan terbesar di masa awal menjadi orang tua dua anak.

Bahkan kegiatan sederhana seperti membacakan dongeng sebelum tidur bisa terasa berbeda ketika bayi tertidur di dada Anda dan Anda berharap ia tidak segera terbangun.

Anak sulung juga mungkin menyadari perubahan tersebut. Ia bisa menjadi lebih manja, lebih sering merengek, banyak menuntut, atau kembali melakukan kebiasaan yang sudah lama ditinggalkan. Pengalaman anak sulung cemburu adik bukan berarti ada yang salah dalam keluarga. Sering kali, itu adalah cara anak bertanya, “Aku masih penting, kan?”

Anda pernah berjanji bahwa tidak akan ada yang berubah

Sebelum persalinan, Anda mungkin sering menenangkan anak dengan berkata, “Ibu akan selalu ada untukmu,” atau “Semuanya akan tetap sama.” Janji itu lahir dari kasih sayang. Namun setelah bayi lahir, Anda mungkin merasa bersalah karena kenyataannya memang banyak hal berubah.

Anda tidak bisa selalu memberikan waktu tanpa gangguan seperti sebelumnya. Tidak semua permintaan dapat langsung dipenuhi. Beberapa rencana harus dibatalkan. Anda bahkan mungkin lebih sering mengatakan tidak kepada anak sulung.

Jangan menganggap janji sebelum bayi lahir sebagai perjanjian yang telah Anda langgar. Cobalah melihatnya dengan cara yang lebih lembut: keluarga memang berubah, tetapi hubungan Anda dengan anak tidak hilang.

Tugas Anda bukan menciptakan kembali masa-masa awal bersama anak pertama secara persis. Tugas Anda adalah membantu anak merasa aman dalam bentuk keluarga yang baru.

Anda membandingkan masa ini dengan tahun pertama anak sulung

Anda mungkin masih mengingat tahun pertama bersama anak sulung. Ada banyak waktu untuk memeluknya, menikmati pagi yang tenang, dan menyaksikan setiap hal baru yang ia pelajari. Sekarang, saat merawat bayi, Anda juga harus membantu pekerjaan rumah, menyiapkan makanan, atau menjawab pertanyaan anak yang lebih besar tentang dinosaurus, kendaraan, dan segala hal lainnya.

Perbandingan semacam ini bisa membuat perbedaan terasa seperti kegagalan sebagai ibu. Padahal bukan itu masalahnya. Anda sedang menjalani masa pengasuhan dengan kondisi yang berbeda. Masa bayi anak kedua bukan pengulangan dari masa bayi anak pertama. Anda sudah berubah, dan keluarga Anda juga sudah berubah.

Hal ini penting diingat ketika membagi perhatian antara anak dan bayi terasa mustahil. Adil bukan berarti setiap anak menerima jumlah waktu, kegiatan, atau pengalaman yang sama persis. Adil berarti Anda berusaha memahami kebutuhan masing-masing, memperbaiki keadaan ketika salah satu anak terabaikan, dan membantu keduanya merasa menjadi bagian penting dari keluarga.

Media sosial menampilkan kehidupan keluarga yang sudah disaring

Foto seorang ibu yang tersenyum sambil membacakan buku kepada dua anak bisa terasa menyakitkan ketika Anda baru saja menyusui bayi di dapur sambil meminta anak sulung segera memakai sepatu. Keluarga di media sosial sering terlihat tenang, bahagia, dan selalu terhubung. Sepuluh menit penuh tangisan, makanan yang tumpah, dan persiapan terburu-buru sebelum foto itu diambil tidak terlihat.

Media sosial membuat ibu merasa bersalah karena tekanan setelah melahirkan tampak seperti bukti bahwa Anda tidak becus mengurus keluarga. Anda mungkin berpikir, “Kenapa semua ibu lain terlihat lebih mampu?” Padahal, mereka juga mengalami makan terburu-buru, perpisahan yang penuh tangis, dan waktu tidur yang berantakan. Hanya saja, bagian itu tidak selalu dibagikan.

Berhentilah mengikuti akun yang membuat Anda merasa tidak cukup baik. Pilih konten dari ibu atau tenaga profesional yang mau membicarakan kehidupan sehari-hari secara jujur. Anda tidak membutuhkan lebih banyak bukti bahwa menjadi ibu bisa terlihat indah. Anda juga perlu diingatkan bahwa menjadi ibu yang lelah, berantakan, tetapi penuh kasih tetap berarti.

Kapan rasa bersalah bisa berguna

Tidak semua rasa bersalah harus dihilangkan. Perasaan bersalah yang kecil dan jelas bisa menjadi petunjuk. Mungkin itu tanda bahwa anak sulung sedang membutuhkan waktu bersama Anda, ada janji yang belum ditepati, atau seluruh keluarga perlu beristirahat sejenak.

Rasa bersalah yang berguna biasanya spesifik dan bisa ditindaklanjuti. Misalnya:

  • “Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan ponsel saat menemani anak tidur.”
  • “Anakku sudah tiga kali meminta waktu berdua minggu ini.”
  • “Tadi aku membentak. Aku ingin memperbaikinya.”

Setelah memahami apa yang ingin disampaikan oleh perasaan itu, lakukan satu langkah kecil. Duduk di samping anak selama lima menit. Minta maaf. Jauhkan ponsel saat menemaninya makan. Minta pasangan menjaga bayi sebentar agar Anda bisa menyelesaikan permainan atau menyusun puzzle bersama anak sulung.

Ini berbeda dari rasa bersalah ibu yang sifatnya menyeluruh dan berkata, “Aku sudah merusak anakku.” Rasa bersalah seperti itu menyerang identitas Anda dan tidak menawarkan jalan keluar. Sebaliknya, refleksi yang sehat dapat membantu Anda menyediakan waktu berdua dan memperkuat hubungan dengan anak.

Dampak rasa bersalah yang berlebihan

Membuat Anda terlalu memanjakan anak tanpa batas

Saat merasa bersalah, Anda mungkin tergoda untuk selalu mengiyakan permintaan anak. Waktu menonton boleh lebih lama, permen diberikan sebelum makan, atau mainan baru dibeli setiap kali keluar rumah. Batasan yang sebenarnya wajar dihindari karena Anda takut anak menganggapnya sebagai penolakan.

Anak membutuhkan kasih sayang sekaligus batasan. Kalimat tenang seperti, “Hari ini kita tidak membeli mainan,” tidak menghapus rasa cinta Anda. Batasan yang konsisten justru dapat membuat perubahan dalam keluarga terasa lebih aman.

Anda bisa mengakui kekecewaannya tanpa mengubah keputusan: “Kamu memang sangat ingin mainan itu. Pasti kecewa saat kita pulang tanpa membelinya. Tapi hari ini kita tetap tidak membeli mainan.” Terhubung dengan anak tidak berarti harus selalu menuruti keinginannya.

Menimbulkan kejengkelan

Berusaha menebus rasa bersalah membutuhkan banyak tenaga. Jika setiap waktu luang digunakan untuk membuktikan bahwa anak sulung tidak dilupakan, Anda bisa semakin lelah dan mudah kesal. Dalam hati, Anda mungkin menyalahkan bayi karena terus membutuhkan perhatian, atau menyalahkan anak sulung karena terus meminta kepastian.

Perasaan seperti itu memang bisa menakutkan, tetapi tidak otomatis menjadikan Anda ibu yang buruk. Sering kali, itu tanda bahwa beban yang Anda tanggung terlalu besar dan bantuan yang tersedia terlalu sedikit.

Rasa bersalah yang tidak menyisakan ruang untuk tidur dan beristirahat tidak sedang melindungi anak. Perasaan itu justru menguras tenaga orang yang paling mereka andalkan.

Membuat Anda berpura-pura bahagia

Sebagian ibu merasa harus terlihat bahagia dalam setiap bagian dari perubahan ini. Anda mungkin memaksakan nada suara yang ceria, menyembunyikan kesedihan, dan berkata kepada anak, “Ini menyenangkan sekali!” meskipun sebenarnya sedang merindukan rutinitas keluarga yang dulu.

Anak tidak membutuhkan ibu yang selalu ceria. Mereka membutuhkan ibu yang jujur secara emosional, tetap aman, dan tetap menyayangi mereka. Anda bisa berkata, “Ibu sangat sayang pada bayi, tetapi hari ini Ibu capek,” atau, “Ibu senang kamu ada di sini. Ibu juga rindu pagi-pagi kita yang tenang.”

Kejujuran seperti ini membantu anak memahami bahwa seseorang bisa merasakan beberapa emosi sekaligus. Anak pun tidak perlu menyembunyikan rasa sedih, marah, atau cemburunya.

Memperbaiki hubungan dalam kehidupan sehari-hari

Gunakan kalimat yang singkat dan jujur

Anda tidak perlu memberikan penjelasan panjang untuk menenangkan anak setelah kelahiran adik. Sering kali, kalimat sederhana justru lebih mudah diterima.

  • “Ibu juga rindu waktu kita berdua.”
  • “Kamu harus menunggu saat Ibu menyusui bayi. Ibu melihatnya.”
  • “Tadi Ibu bicara terlalu keras. Maaf, ya.”
  • “Sekarang bayi membutuhkan Ibu, dan kamu juga tetap membutuhkan Ibu.”
  • “Kamu boleh marah karena ada bayi. Ibu akan menemanimu.”
  • “Kamu tetap anak Ibu. Selalu ada tempat untukmu di keluarga ini.”

Inilah beberapa contoh kata sederhana minta maaf pada anak. Hindari janji bahwa Anda tidak akan pernah terganggu lagi. Sampaikan sesuatu yang benar-benar bisa Anda tepati. “Setelah mengganti popok bayi, kita duduk bersama selama sepuluh menit” terdengar lebih meyakinkan daripada “Nanti Ibu bermain denganmu seharian.”

Buat ritual kecil yang bisa diulang

Pergi berdua atau melakukan kegiatan khusus tentu menyenangkan, tetapi tidak selalu mudah dilakukan pada masa awal merawat bayi. Ritual kecil justru sering lebih bermakna karena dapat diandalkan oleh anak.

Anda bisa mencoba:

  • Memeluk anak selama lima menit sebelum menyusui bayi di pagi hari.
  • Membuat salam atau tos khusus saat mengantar anak ke sekolah.
  • Membiarkan anak sulung memilih satu cerita setiap malam.
  • Menikmati teh dan roti bersama setelah bayi tertidur.
  • Mengobrol setiap hari tentang satu hal yang menyenangkan dan satu hal yang sulit.
  • Berjalan sebentar di sekitar rumah hanya bersama anak sulung.
  • Bermain di lantai selama sepuluh menit ketika bayi berada di tempat yang aman.

Sebut saja waktu ini sebagai “waktu khusus” jika terdengar alami bagi keluarga Anda. Namun, jangan menjadikannya target baru yang membuat Anda semakin tertekan. Pada hari tertentu, waktu khusus itu mungkin hanya berlangsung tiga menit di lorong rumah. Yang lebih penting adalah keteraturan, bukan lamanya.

Beri ruang untuk perasaan yang tidak menyenangkan

Ketika anak berkata, “Aku benci bayi,” naluri Anda mungkin langsung ingin membantah, “Jangan bilang begitu. Kamu sayang bayi, kan?” Keinginan untuk menenangkan anak sangat wajar, tetapi menutup perasaannya terlalu cepat bisa membuat ia merasa sendirian.

Cobalah menjawab, “Kamu ingin kita kembali hanya berdua, ya. Kamu boleh marah. Ibu tidak akan membiarkanmu menyakiti bayi, tetapi Ibu mau mendengarkan.”

Perasaan bukanlah perintah. Anak boleh merasa cemburu, marah, atau sedih tanpa harus bertindak dengan cara yang berbahaya. Tetap jelaskan batasan perilaku, sambil memberi ruang bagi emosinya. Ini juga bagian dari cara mengatasi rasa bersalah. Anda tidak harus menghilangkan setiap perasaan tidak nyaman dari kehidupan anak.

Pasangan dan dukungan sekitar, jangan menanggung semuanya sendiri

Sering kali, ibu menjadi pengatur emosi seluruh keluarga. Anda mengingat siapa yang perlu dipeluk, siapa yang sedang rewel, janji apa yang sudah dibuat, dan apakah anak sulung tampak baik-baik saja. Pekerjaan yang tidak terlihat ini dapat memperkuat rasa bersalah setelah punya bayi.

Sampaikan kebutuhan kepada pasangan atau orang terdekat secara konkret. “Bisakah kamu menemani Raka sendirian selama satu jam pada Sabtu pagi?” lebih mudah dilakukan daripada “Aku butuh bantuan.” Pasangan dapat menjaga bayi saat Anda mengajak anak sulung keluar, atau mengambil alih rutinitas tidur agar Anda bisa beristirahat tanpa tetap mengawasi semuanya di dalam pikiran.

Kakek-nenek, saudara, teman, tetangga, dan komunitas sekitar juga dapat membantu. Seseorang mungkin bisa menjemput anak dari sekolah, mengantarkan makanan, atau menemani bayi sebentar saat Anda mandi. Menerima bantuan bukan bukti bahwa Anda tidak mampu. Begitulah keluarga dan komunitas saling menopang.

Anda tidak gagal hanya karena membutuhkan dukungan. Ibu yang mendapat bantuan memiliki lebih banyak tenaga untuk bersabar, meminta maaf, dan membangun hubungan yang hangat. Tujuannya bukan mengurus seluruh keluarga seorang diri.

Saat rasa bersalah mungkin menjadi tanda masalah kesehatan mental

Rasa bersalah yang biasa biasanya muncul lalu mereda, terutama setelah malam yang kurang tidur atau hari yang melelahkan. Namun, bicarakan kondisi Anda dengan tenaga profesional jika rasa bersalah terasa terus-menerus, sangat berat, atau disertai keputusasaan, panik, mati rasa secara emosional, kecemasan berat, atau pikiran yang mengganggu.

Gangguan suasana hati setelah melahirkan kadang muncul dalam bentuk yang sangat spesifik, seperti keyakinan bahwa Anda adalah ibu yang buruk bagi anak pertama. Anda mungkin merasa telah merusak anak secara permanen, padahal sebenarnya sudah berusaha merawatnya dengan penuh perhatian. Anda juga mungkin tidak bisa beristirahat karena terus mengulang setiap kesalahan di kepala.

Temui dokter, bidan, psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan di puskesmas dan fasilitas kesehatan terdekat. Jika Anda berada dalam bahaya segera atau merasa mungkin menyakiti diri sendiri maupun orang lain, hubungi layanan darurat setempat, seperti 112 atau 119, dan minta bantuan orang terdekat untuk menemani Anda.

Ada bantuan untuk mengatasi rasa bersalah ibu baru ketika perasaan itu berkaitan dengan depresi atau kecemasan. Menjalani perawatan bukan berarti Anda kurang menyayangi anak. Merawat kesehatan mental Anda adalah bentuk kepedulian kepada diri sendiri dan seluruh keluarga.

Hubungan Anda dengan anak masih terus dibangun

Kehadiran bayi memang mengubah keseharian anak sulung, tetapi tidak menghapus tahun-tahun, kebiasaan, dan kenangan yang sudah Anda bangun bersama. Hubungan tidak diukur dari kesabaran sempurna atau jumlah menit yang sama setiap hari. Hubungan tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan berulang kali: meminta maaf setelah membentak, menggenggam tangan di tempat parkir, atau tetap membacakan cerita meski hari terasa kacau.

Ketika rasa bersalah pada anak mulai mengambil alih, berhenti sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang ingin diperhatikan oleh perasaan ini?” Kemudian pilih satu bentuk perbaikan kecil, bukan hukuman untuk diri sendiri. Duduklah lebih dekat. Katakan yang sebenarnya. Tepati satu janji kecil.

Begitulah cara memperbaiki hubungan dengan anak setelah kelahiran dalam kehidupan nyata. Bukan dengan menjadi ibu yang tanpa cela, melainkan dengan berusaha hadir, meminta maaf, dan kembali terhubung berulang kali, sementara keluarga belajar mencintai dalam bentuk yang baru.


Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti nasihat dari dokter, dokter anak, atau profesional kesehatan lainnya. Jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran, Anda harus berkonsultasi dengan profesional kesehatan.
Kami sebagai pengembang aplikasi Erby tidak bertanggung jawab atas keputusan apa pun yang Anda buat berdasarkan informasi ini, yang diberikan hanya untuk tujuan informasi umum dan bukan pengganti nasihat medis pribadi.

Artikel ini mungkin menarik untuk Anda

Erby — Pelacak bayi untuk bayi baru lahir & ibu menyusui

Lacak menyusui, memompa, tidur, popok, dan tonggak perkembangan.
Erby

Erby

Lacak menyusui, memompa, tidur, popok, dan tonggak perkembangan.