Kamu bawa pulang bayi yang baru lahir, menatap wajah mungilnya berjam-jam, lalu pelan-pelan sadar: kulitnya kok agak kuning, ya? Bagian putih matanya juga tampak kekuningan. Langsung cemas.
Normal atau berbahaya, sih?
Kuning pada bayi baru lahir adalah hal yang hampir semua orang tua pernah dengar, tapi baru benar-benar dipikirkan ketika mengalaminya sendiri. Kabar baiknya, pada sebagian besar bayi, bayi kuning itu hal yang normal dan sementara. Tapi memang ada kondisi tertentu yang butuh penanganan cepat.
Panduan ini akan membantu kamu membedakan, kapan cukup dipantau sambil tenang, dan kapan harus segera hubungi dokter anak, bidan, atau membawa bayi ke IGD.
Ikterus neonatorum atau kuning pada bayi adalah kondisi ketika kulit dan putih mata bayi terlihat kekuningan. Ini terjadi karena kadar bilirubin di dalam darah terlalu tinggi.
Bilirubin adalah zat berwarna kuning yang terbentuk saat tubuh memecah sel darah merah yang sudah tua. Pada orang dewasa, bilirubin dibersihkan oleh hati, lalu dibuang lewat tinja.
Pada bayi baru lahir, kondisinya berbeda:
Kalau bilirubin terbentuk lebih cepat daripada kemampuan hati untuk membuangnya, zat ini menumpuk dan mulai tampak di kulit. Itulah yang kita sebut kuning pada bayi baru lahir.
Kamu mungkin melihat:
Ini adalah gejala bayi kuning yang biasa diperiksa oleh bidan dan dokter anak.
Sangat sering.
Di berbagai penelitian di Indonesia dan Asia, diperkirakan:
Jadi kalau kulit bayimu tampak kekuningan, kamu jauh dari sendirian. Dokter anak dan tenaga kesehatan di Indonesia melihat kasus kuning pada bayi setiap hari.
Pertanyaannya biasanya bukan lagi, „Anak saya kuning atau tidak?”, tapi lebih ke „Ini jenis kuning yang mana, dan apakah masih aman?”
Jenis paling sering disebut kuning fisiologis pada bayi. Artinya, ini bagian dari proses adaptasi tubuh bayi setelah lahir.
Pada bayi cukup bulan yang sehat, kuning fisiologis biasanya:
Pada bayi prematur, kuning bisa bertahan sedikit lebih lama, kadang sampai 3 minggu, karena fungsi hati lebih belum matang.
Pola waktu ini sangat penting. Dokter akan memperhatikan betul kapan warna kuning mulai terlihat dan kuning bayi berapa hari berlangsung.
Kalau bayimu tampak sehat, mau menyusu sering, dan kuningnya muncul di hari ke-2 atau ke-3 lalu perlahan memudar, besar kemungkinan itu kuning fisiologis yang normal.
Istilah ini sering bikin bingung orang tua. Kamu mungkin mendengar:
Kedengarannya mirip, tapi maksudnya berbeda.
Kondisi ini biasanya muncul di minggu pertama kehidupan dan berkaitan dengan asupan susu yang belum cukup.
Penyebab yang sering:
Kalau bayi tidak mendapat susu cukup:
Inilah yang sering disebut dokter sebagai kuning karena menyusui.
Poin penting: Bukan ASI yang „menyebabkan” kuning. Masalahnya adalah asupan yang kurang, sehingga bilirubin tidak cepat terbuang.
Yang bisa membantu:
Sering kali, begitu menyusu membaik, bilirubin bayi mulai turun dan warna kuning perlahan menghilang.
Kuning ASI berbeda dengan kuning karena menyusui.
Ciri-cirinya:
Diduga ada zat tertentu dalam ASI yang memperlambat pemrosesan bilirubin oleh hati pada sebagian kecil bayi. Akibatnya, kadar bilirubin tetap sedikit lebih tinggi lebih lama.
Dokter biasanya menyimpulkan ini sebagai kuning ASI bila:
Di Indonesia, dokter anak umumnya tidak menyarankan menghentikan ASI hanya karena kuning ASI. Selama tidak ada kelainan lain, kuning ASI biasanya tidak berbahaya dan menyusui tetap memberi manfaat besar jangka panjang.
Kalau ada keraguan, dokter bisa lakukan tes bilirubin pada bayi dan beberapa pemeriksaan darah lain untuk memastikan tidak ada masalah serius.
Tenaga medis tidak hanya mengandalkan „sekilas lihat”.
Ada beberapa cara untuk menilai ikterus neonatorum.
Pertama, bidan atau dokter akan:
Pemeriksaan visual ini membantu, tapi tidak selalu akurat, terutama pada bayi dengan kulit lebih gelap. Kalau kuning tampak sedang-berat, bayi masih sangat kecil, atau ada faktor risiko lain, biasanya akan dilanjutkan dengan alat atau tes darah.
Di beberapa rumah sakit atau klinik, kamu mungkin melihat alat kecil ditempelkan di dahi atau dada bayi. Ini disebut transcutaneous bilirubinometer.
Pemeriksaan ini cepat, tidak sakit, dan bisa dilakukan di samping tempat tidur bayi.
Jika hasilnya cukup tinggi, atau bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah, dokter biasanya akan meminta tes bilirubin darah untuk memastikan angka pastinya.
Untuk tes ini, diambil sedikit darah dari tumit atau pembuluh darah bayi. Di laboratorium akan diukur:
Rumah sakit menggunakan grafik khusus berdasarkan pedoman (misalnya dari Ikatan Dokter Anak Indonesia) yang menunjukkan:
Kamu mungkin mendengar dokter atau perawat menyebut „batas fototerapi”. Mereka sedang mengecek apakah kadar bilirubin bayi sudah melewati ambang yang perlu terapi cahaya atau belum.
Pengobatan tergantung pada:
Untuk kuning bayi yang ringan, terapi utama biasanya sangat sederhana:
Asupan susu yang baik membuat bayi lebih sering BAB dan BAK. Lewat tinja inilah bilirubin banyak dikeluarkan.
Jika menyusui, kamu bisa dibantu memperbaiki posisi dan perlekatan. Jika menggunakan susu formula, kamu akan dianjurkan memberi sesuai kebutuhan dan jangan menunda-nunda pemberian saat bayi menunjukkan tanda lapar.
Kalau kadar bilirubin lebih tinggi, bayi mungkin perlu fototerapi bayi.
Fototerapi menggunakan cahaya biru khusus untuk mengubah bilirubin di kulit menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan tubuh.
Di rumah sakit biasanya tampak seperti ini:
Fototerapi tergolong aman dan efektif. Banyak bayi hanya memerlukannya 1 sampai 2 hari.
Begitu kadar bilirubin turun melewati ambang aman, lampu dimatikan. Kadang bisa terjadi sedikit kenaikan lagi setelah fototerapi dihentikan, sehingga dokter bisa meminta tes ulang untuk memastikan tetap di bawah batas.
Pada kasus yang sangat jarang, bila kadar bilirubin sangat tinggi atau naik sangat cepat, bayi akan dirawat di ruang perawatan intensif bayi. Tindakan yang mungkin diperlukan:
Kondisi ini jarang, apalagi kalau kuning terdeteksi dan ditangani sejak dini. Alasannya dokter sangat memperhatikan angka bilirubin tinggi adalah karena bilirubin yang sangat tinggi bisa merusak otak dan menyebabkan kondisi yang disebut kernikterus. Syukurnya, ini sangat jarang bila tes bilirubin pada bayi dilakukan tepat waktu dan penanganan segera.
Sebagian besar kuning pada bayi tidak berbahaya. Tapi ada beberapa tanda yang mengarah ke kuning patologis - kuning yang disebabkan masalah medis, bukan sekadar adaptasi normal.
Ini hal-hal yang perlu diperhatikan.
Kalau bayi sudah tampak jelas kuning di hari pertama setelah lahir, ini tidak dianggap kuning fisiologis yang normal.
Kemungkinan penyebab antara lain:
Jenis kuning seperti ini perlu pemeriksaan segera di rumah sakit. Segera hubungi dokter kandungan/bidan yang menolong persalinan, dokter anak, atau bawa ke IGD. Jangan menunggu.
Jika dari pemeriksaan diketahui bahwa bilirubin bayi:
Dokter akan bertindak lebih agresif dan mencari penyebab, seperti:
Ini tidak bisa terlihat hanya dari mata, tetapi kamu akan diberi tahu oleh dokter jika kondisi kuning bayi dianggap gawat.
Pada sebagian besar bayi cukup bulan, kuning fisiologis:
Kalau kuning pada bayi baru lahir tidak hilang setelah 2 minggu, apalagi masih cukup jelas, dokter akan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut.
Hal yang akan dicari antara lain:
Bayi prematur bisa kuning sedikit lebih lama, tapi tetap perlu dinilai bila tampak menetap atau makin kuat.
Ini salah satu tanda penting yang mudah diamati orang tua.
Feses bayi normal:
Urin bayi normal:
Tanda bahaya:
Ini bisa mengarah ke gangguan aliran empedu dari hati, misalnya atresia bilier. Kondisi ini perlu pemeriksaan spesialis segera, karena tindakan dini sangat memengaruhi hasil jangka panjang.
Kalau kuning disertai:
Segera cari pertolongan. Kuning berat maupun infeksi bisa menyebabkan bayi tampak seperti ini.
Segera hubungi dokter anak, bidan, atau bawa bayi ke IGD/UGD bila:
Percaya pada nalurimu sebagai orang tua. Sering kali, orang tua yang paling dulu menyadari ada perubahan.
Untuk kekhawatiran yang tidak terlalu mendesak, misalnya kuning masih tampak ringan di usia sekitar 2 minggu tapi bayi tampak sehat dan menyusu baik, buat janji ke dokter anak atau puskesmas. Mereka bisa mengatur tes bilirubin pada bayi dan pemeriksaan lain bila perlu.
Pada banyak bayi, iya, normal.
Pola yang dianggap normal:
Pola yang perlu diwaspadai:
Kalau ragu, tanyakan. Tunjukkan bayi pada bidan, perawat, atau dokter di bawah cahaya yang cukup. Ceritakan pola BAK dan BAB secara detail. Tanyakan apakah perlu tes bilirubin pada bayi.
Kamu bukan „kebanyakan khawatir”. Kamu melakukan yang memang seharusnya dilakukan orang tua: memperhatikan dan bertanya.
Sebagian besar bayi kuning akan kembali ke warna kulit normal hanya dalam beberapa hari. Sambil menunggu, teruskan menyusui atau memberi susu sesering yang dianjurkan, nikmati momen pelukan bayi yang masih mungil, dan ingat bahwa rasa cemas di awal-awal ini adalah bagian dari proses belajar mengenal anakmu.
Kalau memang ada sesuatu yang tidak beres, tindakan cepat sangat membantu. Kalau ternyata semua normal, kamu mendapat kepastian sehingga bisa sedikit lebih tenang.
Yang jelas, kamu tidak perlu menghadapi masalah bayi kuning sendirian. Tenaga kesehatan di sekitar kamu siap membantu menjelaskan dan menanganinya bersama.